Hantu Penghuni Rumah Si Mbah

Kejadian ini aku alami ketika aku masih sekolah di bangku SMP. Waktu itu entah malam apa aku sudah lupa, aku pergi ke rumah si mbah yang tidak jauh dari mushola. Mau minta makan, karena biasanya si Mbah kalau masak selalu tersisa karena beliau tinggal sendirian, bibikku yang selama ini merawat si mbah merantau ke jakarta sejak dulu. Biasanya kalau lebaran baru pulang kekampung halaman.

Aku ditemani sama sepupuku yang namanya kang Dain, entah kenapa sejak berangkat tadi aku sudah merasa gak enak, gak tau kenapa. Sesampainya dirumah si mbah ternyata pintu rumahnya tertutup yang menandakan si mbah tidak ada dirumah.

Memang rumah si mbah dikelilingi bambu sehingga suasana selalu gelap dan memang tidak ada penerangan sama sekali saat itu, sehingga membuat rumah si mbah nampak begitu angker jika malam hari.

Pintu rumah tertutup seharusnya kau sudah paham kalau si mbah gak ada dirumah, apalagi pintunya pun digembok. Tapi entah mengapa seakan ada yang memaksaku untuk mengintip kedalam rumah.

“pintunya digembok, si mbah gak ada dirumah.Ayo kita pulang saja” kata kang Dain

“bentar tak lihat dulu, kayaknya ada orang didalam rumah, takutnya ada maling” jawabku

“ya gak mungkinlah maling masuk rumah si mbah, emangya mau ngambil apa?” kang Dain tersenyum.

“eh, jangan salah.. bisa aja malingnya mencuri pusaka atau benda keramat milik si mbah!” jawabku meyakinkan.

“iya juga sih, ayo lihat kalo begitu” kang dain menarikku.

Tak begitu jelas diintip dari luar, ada si mbah tapi rambutnya panjang dan putih. Tapi entahlah karena rumah si mbah hanya diterangi dengan lampu 10 wat dan tampak remang-remang. Dari dalam orang yang mirip si mbah nampaknya mengetahui kalau ada yang mengawasinya dan langsung memandang kearahku lalu berjalan menuju pintu. Anehnya lagi tanpa buka pintu orang yang mirip si mbah tiba-tiba ada di sampingku. Tubuhku seketika gemetaran, rasanya meriang, bulu kudu langsung berdiri tanpa perintah. Aku lari sekuat tenaga sampai menabrak sepupuku.

Tapi aneh, aku lari seakan diarahkan menuju belakang rumah si mbah, padahal seharusnya kalau orang ketakutan pasti mencari tempat yang terang atau yang banyak orang. Aku lari seperti sapi yang digelandang pemiliknya, mau lari ke tempat ramai gak bisa. Sekan ditarik tenaga yang sangat kuat sehingga aku menuju ke arah belakang rumah si mbah.

Sesampai di belakang rumah si mbah, tubuhku yang gemetaran ditambah rasa takut yang luar biasa, sehingga aku dan sepupuku terduduk lemah di tanah belakang rumah si mbah saking takutnya.

“Terdengar suara azan di mushola” tiba-tiba orang yang mirip si mbah menghilang.

Aku dan sepupuku langsung lari mencari pertolongan dan tak lama kemudian bertemu dengan tetanggaku yang bernama subeki. Subeki kaget melihat aku dan sepupuku lari tunggang lenggang.

“ada apa kok lari ngos-ngosan kaya dikejar setan aja” kata lek subeki.

“aku dikejar setan disana, dirumah si mbah” jawabku ngos-ngosan.

“halah, bohong, masih kecil kok mau bohongi orang tua” jawab lek subeki tak percaya.

“kalau gak percaya ya sudah” jawabku jengkel.

***

Keesokan harinya aku dan sepupuku sengaja bermain ke rumah si mbah setelah magrib. Kebetulan malam ini si mbah dirumah sebab rumahnya terbuka gak dikunci seperti malam kemarin.

“Asalamualikum mbah”

“walaikum salam” jawab si mbah.

“mbah kemarin malam mbah kemana? Rumahnya kok digembok” tanyaku.

“mbah main kerumah pamanmu, pagi tadi baru pulang” jawab si mbah.

“emangnya da apa ya?” tambah si mbah.

Dar….. aku kaget gak karuan, tubuhku langsung gemetaran dan kuceritakan kejadian kemarin malam sama si mbah walau sebenarnya takut menyelimuti pikiranku. Tapi si mbah malah tersenyum.

“oh, itu memang penjaga rumah si mbah, tapi kalau niatnya baik gak bakal diganggu” jawab si mbah tersenyum.

“lho.. mahluk seperti itu harus dihilangkan mbah, aku minta garam buat pagar rumah si mbah” jawabku tegas.

Kemudian aku menuju dapur untuk mengambil garam dan membacakan doa-doa yang kemudian aku sebarkan disekeliling rumah si mbah ditemani sepupuku kang dain.

Suara azan berkumandang, aku dan sepupuku pamit pulang untuk sholat berjamaah di mushola. Setelah sholat jamaah ada warga yang bercerita kalau ia mendengar ada orang teriak-teriak kesakitan dan minta tolong sambil menunjuk kearah rumah si mbah.

Mungkin itu penunggu rumah si mbah yang gak nyaman dengan garam yang kutebar tadi. Semoga tidak mengganggu warga lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *