Misteri Kedung Bulus

Belum genap dua tahun kuswari dinas di puskesmas Baureno. Tak tinggal di kota atau dikecamatan yang ramai malah tinggal di pelosok desa yang sepi, namun karena sudah terkenal sebagai mantri suntik dan sunat sehingga sudah banyak yang menegetahui keberadan tempat tinggalnya. Pelayanan yang baik, orangnya sabar, dan tidak pelit apalagi sombong.

Kuswari juga murah senyum pada siapa saja dan tanpa membedakan mana yang kaya dan mana yang miskin. Mungkin memang nasibnya ditugaskan di tempat yang jauh dari perkotaan. Tak hanya satu kecamatan saja, namun banyak kecamatan lainnya yang membutuhkan keahliannya dengan alasan banyak yang cocok atau jodoh jika ia yang menanganinya.

“permisi… tok.. tok.. permisi… tok… tok..” suara orang mengetuk pintu.

“siapa ya” jawab kuswari dalam hati, lalu bergegas membuka pintu.

“aku wakidin dari kedung bulus” teriaknya.

Saat pintu terbuka terlihat sosok lelaki tua menggunakan peci hitam kemerah-merahan, kaos oblong berwarna putih sedikit lungset dan sarung kotak-kotak.

“maaf pak mengganggu malam-malam” kata wakidin sambil tersenyum.

“gak apa-apa silahkan masuk pak” jawab kuswari.

“anu.. pak, gini, kedatangan saya kemari mau menyampaikan kalau anak saya yang kecil minta disunat, kalau bisa malam ini juga” wakidin menjelaskan.

Kuswari kaget bukan kepalang, baru kali ini ada yang minta sunat mendadak dan malam-malam pula seperti tak ada hari lain saja.

“lho kok mendadak pak, apa gak bisa besok-besok saja” kata kuswari.

“sudah sebulan anak saya itu merengek minta disunat, sudah saya coba bujuk namun kali ini cara yang sama sudah gak mempan lagi. Malah nangis gulung-gulung sejak magrib tadi, saya jadi gak tega pak” jawab wakidin memelas.
Mendengar penjelasan wakidin pak mantri kuswari jadi kasihan, tapi perasaanya tak enak, seakan ada misteri yang akan terjadi. Dengan terpaksa kuswari mengiyakan dan mereka segera berangkat menuju rumah wakidin.

Jalan sepi tanpa lampu penerangan jalan. Suara jangkrik mengerik membuat susana menjadi berbeda seperti biasanya, ditambah angin yang menerpa membuat hawa dingin menyelimuti seluruh tubuh.

Sampai depan rumah wakidin nampak remang-remang, lampu penerangan yang minim sehingga membuat susana rumah menjadi terlihat angker.

“silahkan pak, ayo masuk” kata wakidin sambil menarik tangan mantri kuswari.

Sampai di dalam rumah nampak anak kecil menangis samping ibunya yang menunggu di kursi.

“ini pak anak saya yang mau sunat” wakidin menunjuk kearah anakknya.

“ayo langsung saja disunat biar gak kemalaman” mantri kuswari langsung melaksanakan tugasnya.

Setelah proses sunat selesai kuswari kembali pulang. Sampai dirumah kuswari menaruh tas dimeja kemudian merebahkan tubuhnya ke kursi sofa hingga ia ketiduran.

Saat pagi tiba ia pergi ke kantor desa untuk menanyakan tentang orang yang semalam kerumahnya untuk minta tolong menyunati anaknya. Karena ia dibuat penasaran dan merasa ada misteri dibalik kejadian semamalam.

“pagi pak kades” kuswari menyapa kepala desa.

“pagi pak kuswari, silahkan duduk, ada yang bisa dibantu” jawab kepala desa.

“begini pak, mau nanya apakah ada warga desa kedung bulus yang bernama wakidin? Sebab semalam ia datang kerumah dan minta tolong untuk menyunati anaknya yang paling kecil, malam itu juga anaknya minta disunat” kata kuswari menjelaskan.

“lho wakidin bukannya sudah meninggal dan ini malam seratus hari wafatnya beliau, pak mantri kuswari ada-ada saja, masak ada orang minta sunat mendadak dan malam hari itu juga harus disunat” jawab kepala desa sambil tersenyum.

Bak di sambar petir dipagi hari, mantri kuswari terkejut mendengat penjelasan kepala desa, ia tak menyangka yang kerumahnya itu orang yang sudah meninggal 100 hari yang lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *