Ojek Sundel Bolong

Sejak bujang hingga memiliki anak 4 kalu dihitung sekitar 20 tahun wiwit menekuni pekerjaan menjadi tukang ojek dan hal itu ia tekuni dan nikmati singga saat ini.

Dari dulu pangkalan ojeknya ya disitu-situ saja, ada 10 tukang ojek yang ada di pangkalan itu, namun wiwit selalu mendapat giliran ojek malam karena ia paling berani diantara teman-teman ojek lainnya.

Ojek malam memang membutuhkan keberanian tersendiri sebab area tersebut terkenal tidak aman dan angker, sering orang lewat melihat penampakan sundel bolong. Hii…. ngeri.

Waktu itu jam 8 malam wiwit masih asik nongkrong bersama temannya dipangkalan ojek. Cerita kesana-kesini sembari menunggu barangkali ada penumpang yang turun dari bus dan butuh diantar tukang ojek.

Susana malam itu tak seperti biasanya, dingin dan ada hawa panas yang meniup tubuh hingga tembus ketulang sumsum. Sedikit mendung dan nampak bingtang dilangit yang mulai samar-samar. Lama kelamaan mendung semakin gelap dan kemungkinan hujan akan segera turun dari langit. Tak ada orang lalu lalang seperti biasanya, malam itu begitu sepi tanpa penghuni.

Tak lama kemudian ada bus berhenti dan penumpang turun. Wiwit yakin bahwa penumpang yang turun bakal minta antar pulang kerumah naik ojek. Dan prediskinya benar, bakal calon penumpang itu wanita berpakaian putih. Wiwit menghampiri sembari berkata, ojek mbak, minta antar kemana?

“Wanita itu hanya diam lalu mengangguk”

Ayo naik, siap berangkat. Jawab wiwit semangat.

Sepanjang jalan wiwit bertanya pada wanita tersebut namun wanita itu hanya diam tanpa kata. Perasaan wiwit mulai tak enak, timbul banyak pertanyaan, ini wanita bisu, tuli, atau lagi galau ya? Sejak tadi tak satupun pertannyaanku dijawab.

Tiba-tiba wanita tersebut memegang pundakku seakan memberi isyarat untuk berhenti. Namun aneh, saat berhenti kok kaya kuburan ya? Tanya wiwit dalam hati.

Kok berhenti disini mbak, ini kuburan lho? Tanya wiwit polos.

Wanita itu turun dari motor dan ada yang aneh, kakinya gak nginjak tanah, rambut terurai menutupi wajah.
Jangan-jangan wanita itu… Sundel Bolong “wiwit menggumam dalam hati”

Bulu kudunya mulai berdiri, kakinya gemetaran, wajahnya pucat. Rasanya ingin lari namun kakinya sekan tertancap dalam bumi.

Hi..hi..hi.hi.. “tiba-tiba wanita itu tertawa lalu terbang keatas pohon”

To… tooo…. tolong…………………… “wiwit lari tunggang lenggang”

Tolong…. ada sundel bolong…

Tolong…..!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *