Sejarah Singkat Asal Usul Desa Datinawong

Dati adalah salah satu dusun dari 3 dusun yang ada di desa Datinawong kec. Babat Kab. Lamongan. Dati dahulunya adalah Alas Hutan yang tumbuh pohon bambu dan pohon serut. Dusun Dati daerahnya rendah sehingga kalau musim penghujan banyak kebanjiran, kalau musim panas tanahnya kering dan pecah-pecah.

Hutan Alas ini kadang-kadang kelihatan dan kadang-kadang tidak kelihatan bahkan kadang terlihat cahayanya. Makanya kalau orang Datinawong kalau diluar daerah dia akan di hormati orang lain, kalau di daerah sendiri (Dati) dia orang biasa tapi kalau dia daerah orang lain agak berguna. Begitulah kenyataanya.

Kembali ke Sejarah asal mula Dati. Pada Abad ke 15 atau tahun 1400 an Raden Rahmat (Sunan Ampel) menghadap Raja Majapahit Yaitu Raja Wikra Wardani yaitu Putra Raja Hayam Wuruk Raja ke 4 Majapahit kemudian meminta Raja Majapahit berupa tempat yang akan di gunakan untuk mendidik para santri guna menyebarkan agama islam di pulau jawa. Raja Majapahit memberi tempat berada di Surabaya yaitu Ampel Delta yang dulunya adalah hutan banyak sekali lintahnya sehingga kalau ada orang kesitu pasti di serang lintah daranhya di hisap. Alhamdulillah berkat Karomah Mbah sunan Ampel Daerah itu menjadi tempat untuk mendidik para santri dan banyak sekali orang yang menjadi santri Mbah Sunan Ampel diantaranya Para prajurit Majapahit, Keturuna Raja Majapahit diantaranya adalah Raden Fatah Raja Bintoro Demak. Raden Fatah adalah Putri Cempa Saelan Doro Wati Mundi Ningrum dan diantaranya adalah Mbah Djati Bin Amangku Djati.

Pada Abad 15 Raja Majapahit Hayam Wuruk memerintahkan prajuritnya untuk mencari daerah yang keluar sinarnya itu, sudah beberapa prajurit di perintahnya mendekati hutan yang bersinar itu tetapi tidak ada yang bisa kembali.

Pada Zaman Dahulu orang laki-laki dan perempuan bisa menjadi prajurit majapahit. Raja Wikra Wardani ini punya Mahapatih yang bernama Gajah Wulung, Patih ini wajahnya jelek dia suka sekali pada prajurit perempuan yang cantik, kalau tidak mau di jadikan istrinya akan di penjara dan di siksa. Ada salah satu prajurit perempuan yang sangat cantik dia tidak mau di jadikan istri Gajah Wulung dia adalah Dewi Margo Sari Putri dari Lembu Margo Djoyo yang akan menjadi cikal bakal terjadinya dusun Dati.

Dewi Margo Sari ini karena tidak mau di jadikan Istri Mahapatih Gajah Wulung, dia melarikan diri dari Majapahit. Dia lari terus sampai di kali Lamongan beberapa bulan kemudian sampai di Lamongan bagian barat sampailah ketemu alas yang keluar sinarnya, supaya tidak di tangkap orang majapahit maka Dewi Margo sari masuk ke alas hutan tersebut karena prajurit yang sakti maka dia berhasil masuk ke alas hutan itu dengan selamat.

Di alas hutan itu Dewi Margo Sari duduk di samping pohon bambu kemudia dia bersemedi karena masih beragama Hindu. Dewi Margasari dalam semedinya meminta yang Maha Kuasa supaya tidak di tangkap orang majapahit, supaya kalau mendapat jodoh orang itu pandai dan baik). Setelah selesai Semedi Dewi Marga sari ini ketelak kemudian menacapkan cundriknya ke tanah maka keluarlah airnya kemudian menjadi sumur yang di sebut sumur Sari yang sekarang itu bekasnya masih ada yang sudah tidak di pakai dan tidak terawat dan sudah dangkal.

Pada abad ke 15 Mbah Sunan Ampel memerintahkan salah satu santrinya bernama mbah Djati Bin amangku Djati untuk mencari alas yang keluar sinarnya, kemudian pergilah Mbah Djati untuk mencari daerah tersebut dengan berjalan kaki. beberapa hari berjalan sampailah sampai di alas hutan yang bersinar tersebut. sampai di alas tersebut Mbah Djati melihat ada orang Perempuan sendiri di alas itu cuman dilihat saja tidak di dekati. Kemudian Mbah Djati kembali ke surabaya.

Beberapa Bulan kemudian Mbah Sunan Ampel memerintahkan lagi Mbah Djati kembali ke alas hutan sampai di alas hutan itu Mbah Djati menemui Dewi Margo Sari kemudian di tanya Mbah Djati. Dewi Margo sari menceritakan mengapa dia sampai di alas Hutan ini bahkan sebelumnya adu kesaktian, dalam adu kesaktian Mbah Djati yang menang. Kemudian Mbah Djati Mengajak Dewi Margasari ke Ampel menemui Mbah Sunan Ampel kemudian di nikahkan keduanya di nikahkan.

Setelah menikah mbah Djati Dan Dewi Margasari kembali ke alas hutan yang bersinar kemudian di beri nama sawah mangun/Djati. dari pernikahan inilah kemudia melahirkan banyak keturunan.

Kemudian datang lagi Raden Naronggo dia berasal dari Ponorogo kemudian di nikahkan dengan putri mbah Djati. Raden Naronggo ini kemudian tinggal di dusun nawong kemudian menjadi satu yaitu Datinawong. Kemudian datang lagi orang alim dia adalah keturunan Demak dia adalah mbah Nasrori kemudian di ambil menantu mbah Djati Juga.

Untuk makamnya sekarang Mbah Djati dan Mbah Nasrori bersebelahan. Sekarang makamnya sudah ada cungkupnya setiap kamis pasti ramai banyak orang yang berziarah.

Demikianlah sejarah singkat asal usul Datinawong. Ingin tahu haul dan kegiatan di makam Mbah Djati dan Mbah

Nasrori silahkan kunjungi blog kami kirom2015.blogspot.co.id

Mohon apabila ada kekeliruan dalam postinganku ini karena baru belajar serta banyak kekurangan.

Sekali lagi silahkan kunjungi blog kami apabila ingin mengetahui acara Haul dan kegiatan di makam Mbah Djati dan Mbah Nasrori di kirom2015.blogspot.com

One thought on “Sejarah Singkat Asal Usul Desa Datinawong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *