Tragedi Mencuri Kayu Jati

Waktu itu hujan rintik-rintik, aku bersama teman-teman dengan membawa gergaji panjang pemotong kayu dan kapak menuju hutan untuk mengambil kayu. Sebenarnya aku malas sekali waktu itu untuk berangkat, namun mau bagaimana lagi, jika tak berangkat besok anak istri mau makan apa.

Sebelum berangkat aku memandangi anakku yang sedang tidur pulas tanpa selimut dan beralaskan tikar pandan lusuh. Tak lama kemudian istriku membawa secangkir kopi dan berkata “Mas hati-hati ya, jangan sembarangan kalau di dalam hutan” iya, jawabku sambil menikmati kopi.

Tak lama teman-temanku datang menjemput dan kami segera berangkat.waktu itu pukul 10 malam. Kami terus berjalan menelusuri jalan semakin jauh dari perkampungan. Kami ber 8 selalu bersama mencuri kayu jati maupun kayu lainnya untuk dijual.

Sesampainya di hutan kami segera beraksi menebang pohon jati milik pak basri saudagar kaya di desa sebelah tak jauh dari desa kami. Gelap gulita dan kami menyalakan senter untuk memilih kayu jati yang besar, sebab disana banyak sekali kayu jati yang berumur puluhan tahun yang pasti nilai jualnya tinggi.

Hutan tersebut terkenal angker dan ada pantangan kalau menebang kayu disana harus membawa sesajen. Namun kami tak pernah peduli dengan semua itu. Yang kami tau kalau disana banyak kayu jati yang siap diambil dan dijual.
Kami menemukan pohon jati yang siap ditumbang menggunakan gergaji panjang yang dilakukan dengan dua orang. Baru setengah, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang dan hawa dingin disertai suara burung gagak yang menggema membuat susana berubah menjadi mencekam.

Tiba-tiba pohon jati yang kami geragji tumbang dan kami berlari sekuat tenaga, namun salah satu teman kami yang sudah tua tertimpa kayu jati dan minta tolong “tolong………..”

Kami kembali dan berusa menolong, namun karena pohon jati yang menimpa teman kami terlalu besar dan suara teman kami sudah tak ada lagi, kami hanya diam dan gemetaran. Nyawanya tak tertolong lagi. Karena takut kami memutuskan untuk menguburnya di dalam hutan.

Kami memutuskan pulang kerumah, namun ditengah jalan di depan kami nampak seseorang dan ternyata itu teman kami yang meninggal tadi. Matanya nampak keluar dan tubuhnya penuh darah. Kami lari sekuat tenaga menuju pemukiman warga untuk meminta pertolongan.

Tolong… tolong… teriak kami sekuat tenaga.

Tak lama kemudian warga datang..

Kami menceriatakan kejadian yang kami alami kepada warga, warga yang marah membawa kami menuju rumah kepala desa. Kami mengaku salah dan menunjukkan dimana teman kami yang meninggal dikubur. Warga memutuskan untuk mengubur jasad teman kami di pemakaman umun dan sejak saat itu tak ada lagi orang yang berani mencuri kayujadi di dalamhutan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *